Oleh Ustaz Makmun Nawawi
Seperti
biasa, saat pagi jalan-jalan cukup ramai. Tampak seorang pengemudi
mobil ditemani seseorang di sampingnya, melarikan mobilnya amat
kencang. Begitu kencangnya, hingga nyaris kehilangan kendali. Guna
menyelamatkan diri, ia terpaksa harus menyalip motor yang ada di
depannya. Pengendara yang disalip atau dilewati itu, yang kebetulan
membonceng anak kecil langsung terperangah, kaget, seraya menumpahkan
sumpah serapahnya. Sadar dengan kejadian tadi, pengemudi mobil itu
menurunkan kecepatannya. Kondisi itu dimanfaatkan sang pengendara motor
untuk mengejarnya, agar leluasa meluapkan amarahnya.
Usai
menerima buncahan kemarahan pengendara motor, sang sopir kembali
menaikkan kecepatannya. Bukan untuk ngebut lagi, tapi agar ia bisa
melewati motor tersebut. Karena setelah mobilnya berada di depan motor,
ternyata ia menghentikan mobilnya, lalu turun, dan menyetop si
pengendara motor. Melihat kejadian itu, teman si sopir sudah
ketar-ketir khawatir terjadi perkelahian besar-besaran seperti yang
kerap terjadi di jalan-jalan.
Tapi, rupanya dugaannya meleset,
karena begitu motor berhenti, ternyata sopir tadi justru menjulurkan
tangannya, seraya mengakui kesalahan yang sudah diperbuatnya dan
meminta maaf kepada si pengendara motor. Subhanallah.
Di tengah
banyak orang yang sangat berat mengakui kesalahan, bahkan amat mahir
dalam berapologetik dan mencari segudang alasan pembenaran atas
kesalahan yang sudah dilakukannya, peristiwa di atas bisa menjadi
pelajaran indah. Bukan menghindar atau lari dari kesalahan yang
diperbuatnya, melainkan berani meminta maaf atas kesalahan yang
dilakukan. Ia menafikan beragam fenomena perilaku kriminal yang amat
lihai berkelit dengan sejumlah alibi.
Padahal, kesadaran
seseorang untuk mengakui kesalahan adalah mutiara berharga yang
mengantarkan dirinya memiliki sikap tawadhu, yang dijanjikan Nabi:
"Tidaklah seseorang itu tawadhu karena Allah, kecuali Allah akan
meninggikannya." (HR Muslim).
Itulah akhlak yang dimiliki oleh
orang-orang saleh, yang sangat ringan dalam mengakui kesalahan. Kita
lihat misalnya Ka'ab, Murarah, dan Hilal yang tak ikut Perang Tabuk.
Juga Ma'iz bin Malik atau seorang wanita Ghamidiyah yang langsung
menghadap Nabi dan dengan terang-terangan mengaku berzina, seraya siap
menerima segala risiko dari pertobatannya itu demi membersihkan dirinya
sehingga bisa menemui Rabbnya dengan tanpa noda.
Takut posisi
dan kehormatannya rusak, boleh jadi itulah faktor yang menghalangi
seseorang untuk mengakui kesalahan. Padahal, tak harus demikian, malah
dengan menyadari dan mengakui kesalahannya bisa menaikkan kehormatan
dan integritas diri seseorang. Abul Hasan al-Asy'ari, misalnya, mantan
imam besar mazhab Mu'tazilah. Saat ia sadar bahwa haluan pemikiran yang
diikutinya salah, Abul Hasan pun memublikasikannya di hadapan publik.
Dengan
pengakuan tersebut, tak membuat derajatnya surut, tapi justru
menjadikannya sebagai tonggak utama dalam pengokohan pilar-pilar akidah
umat. Harus diakui, untuk pertama kalinya dalam sejarah, julukan "ahlus
sunnah" itu disematkan kepada kelompok Asy'ariyah.
sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/10/28/ltr35k-belajar-mengakui-kesalahan
belajar mengakui kesalahan
00.12 |
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar