Tak
dapat dipungkiri bahwa IQ mempunyai peran yang sangat besar dalam
menentukan keberhasilan seseorang, namun IQ bukanlah satu-satunya
penentu dalam keberhasilan seseorang. Oleh karena itu keberhasilan
manusia bukan hanya karena faktor inyelegensia saja, tetapi juga faktor
emosi turut bermain dalam menentukan keberhasilan seseorang.
Penelitian dari National Center (dalam
Goleman, 1995 ) untuk program balita di Amerika menunjukan bahwa
keberhasilan di sekolah bukan diramalkan hanya oleh kemampuan dirinya
dalam membaca, menulis, dan matematika, melainkan oleh ukuran emosional
dan sosial, yaitu yakin pada diri sendiri, tahu pola perilaku apa yang
diharapkan orang dan bagaimana mengendalikan dorongan hati untuk
berbuat nakal, maupun mengganggu, mengikuti petunjuk, dan mengenali
minatnya sendiri. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kesiapan anak
untuk masuk sekolah bergantung pada beberapa hal yang paling dasar dari
semua pengetahuan, yaitu bagaimana caranya belajar.
Pada
dasarnya emosi adalah dorongan untuk bertindak yang mempengaruhi reaksi
seketika untuk mengatasi masalah. Sehingga emosi yang cerdas akan
mempengaruhi tindakan anak dalam mengatasi masalah, pengendalian diri,
semangat, tekun serta mampu memotivasi diri sendiri yang terwujud dalam
hal hal berikut ini.
- Motivasi belajar yang berasal dari dalam diri, di mana dengan pengendalian diri yang baik, anak yang mampu mengatur sendiri kegiatanya, akan mengenal kecepatan belajarnya serta lebih mengerti tujuan dan manfaat belajar. Anak tidak perlu terlalu diatur dan disuruh belajar karena ia sendiri sudah menetapkan jadwal belajarnya dan menciptakan kesenangan dalam belajar.
- Pandai. Umumnya anak yang secara emosi cerdas, juga mampu mengoptimalkan prestasinya karena didorong oleh motivasi
belajar yang besar. Kepandaian seorang anak tidak hanya didukung oleh
kecerdasan kognitif yang tinggi saja. Tidak akan berarti jika anak yang
pandai tetapi di sekolah ia tidak berprestasi baik karena malas
belajar, tidak bisa berkonsentrasi sehingga potensinya yang baik tidak
terwujud secara memadai. - Memiliki minat. Anak yang cerdas secara emosional, sejak dini sudah mengerti keinginanya dan lebih terarah dalam melakukan tugas-tugasnya. Minatnya lebih menetap dan upayanya lebih berkaitan dengan minatnya.
- Konsentrasi. Dengan kemampuanya untuk mengendalikan diri secara sehat, anak yang cerdas secara emosional akan lebih bisa memusatkan konsentrasinya dan tidak mudah teralih oleh situasi sesaat. Kemampuanya untuk memusatkan konsentrasi tidak hanya pada pelajaran di sekolah, tetapi juga pada semua kegiatan yang tengah ditekuninya. Dengan demikian dalam belajar dan melakukan kegiatan, anak akan mampu menunjukan efisiensi dan efektifitas kerja. Waktu tidak banyak terbuang dan hasil belajar atau kerja yang diperoleh akan cukup banyak.
- Mampu belajar diri di lingkungan. Anak dengan emosi yang sehat akan lebih terampil dalam menyesuaikan diri di lingkungannya. Sikapnya menyenangkan hati orang lain dan dapat lebih diterima di lingkungannya. Mereka cenderung lebih ramah dan tidak menuruti kehendak hatinya dalam menyelesaikan suatu masalah.
Anak
yang kecerdasan kognitifnya biasa, tetapi memiliki kecerdasan emosi
yang tinggi tidak jarang mampu berprestasi setara dengan anak-anak yang
kecerdasan kognitifnya tinggi. Kemampuan mereka untuk membina kerja
sama dan menunjukan empati dan toleransi terhadap orang lain menjadikan
mereka memiliki banyak kawan serta bisa memperoleh informasi pelajaran
yang cukup luas.
Ditambah
dengan konsentrasinya yang tinggi, mereka cukup mampu meraih prestasi
optimal. Anak dengan kecerdasan kognitif yang tinggi dan kecerdasan
emosi yang tinggi biasanya menjadi anak yang disukai lingkunganya dan
mampu mewujudkan diri dengan optimal. Di samping pandai, anak ini
pandai bergaul dan biasanya menjadi pemimpin dalam kelompoknya. Anak
mampu memecahkan masalah dan menjadi tumpuan harapan untuk mendapat
masukan dari lingkunganya. Anak yang cerdas secara emosional akan lebih
bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas-tugasnya.>>
Ditambah
dengan konsentrasinya yang tinggi, mereka cukup mampu meraih prestasi
optimal. Anak dengan kecerdasan kognitif yang tinggi dan kecerdasan
emosi yang tinggi biasanya menjadi anak yang disukai lingkunganya dan
mampu mewujudkan diri dengan optimal. Di samping pandai, anak ini
pandai bergaul dan biasanya menjadi pemimpin dalam kelompoknya. Anak
mampu memecahkan masalah dan menjadi tumpuan harapan untuk mendapat
masukan dari lingkunganya. Anak yang cerdas secara emosional akan lebih
bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas-tugasnya.>>






0 komentar:
Posting Komentar